• UGM
  • Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada Pusat Kedokteran Tropis
FK-KMK Universitas Gadjah Mada
  • Artikel
  • Berita
    • Berita PKT
    • Pengetahuan
    • Media Edukasi
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • PANDUAN IDENTITAS VISUAL
    • KOLABORATOR
    • ARSIP PERATURAN
    • Kontak Kami
  • Penelitian
    • TUBERKULOSIS
      • E-NOSE TB
    • ARBOVIRUS
    • MALARIA
    • STI dan HIV/AIDS
    • NID/ZOONOSIS
    • CROSS-CUTTING
      • POLIO STRIPE
  • Pelatihan
    • PUSAT PELATIHAN REGIONAL
    • PELATIHAN SEBELUMNYA
  • KARIR
  • Beranda
  • stranas
  • page. 2
Arsip:

stranas

WORKSHOP 1

stranas Monday, 5 April 2021

WORKSHOP 1. ANALISIS PEMANGKU KEPENTINGAN

PENYUSUNAN STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN DENGUE INDONESIA 2021-2025

  1. Latar Belakang
  2. Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat yang klasik pada abad 21 di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes ini cepat menyebar, dengan peningkatan 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50–100 juta infeksi Dengue terjadi setiap tahun dan hampir setengah dari populasi dunia tinggal di negara endemik Dengue. Saat ini hampir 75% dari populasi global terpapar Dengue di wilayah Asia-Pasifik. Epidemi Dengue berdampak terhadap sistem layanan kesehatan dan kerugian ekonomi besar-besaran. Di beberapa negara, beban Dengue sebanding dengan Tuberkulosis dan penyakit menular lainnya.

    Kasus Dengue (DBD) ditemukan pertama kali di Indonesia pada 1968 dan sejak tahun 2014 telah menyebar di 34 provinsi, berfluktuasi setiap tahunnya dan cenderung semakin meningkat angka kesakitannya dan sebaran wilayah yang terjangkit semakin luas. Pada tahun 2020 terdapat 108.500 kasus Dengue dalam hal ini DBD (IR 39.99 per 100.000 penduduk) dengan kematian akibat DBD sejumlah 749 orang (CFR 0,69%). Angka kematian akibat demam berdarah menurun di bawah 1% sejak 2008, namun demikian secara absolut harus tetap menjadi perhatian.

    Persebaran Dengue didorong oleh nyamuk yang mudah ditularkan oleh orang atau vektor yang terinfeksi melalui peningkatan perdagangan, perubahan penggunaan lahan dan perluasan urbanisasi. Tujuan dari strategi nasional adalah menurunkan beban Dengue dengan mengurangi mortalitas dan morbiditas akibat Dengue. Kematian akibat demam berdarah dapat diturunkan diantaranya dengan penerapan deteksi dini kasus dan menguatkan sistem rujukan; menangani kasus yang parah dengan pengobatan yang tepat; reorientasi layanan kesehatan untuk mengidentifikasi kasus awal dan mengatasi wabah Dengue secara efektif; dan melatih tenaga kesehatan di semua tingkat sistem kesehatan. Morbiditas Dengue dapat dikurangi dengan menerapkan prediksi dan deteksi wabah yang lebih baik melalui surveilans epidemiologi dan entomologi yang terkoordinasi; mempromosikan prinsip-prinsip manajemen vektor terintegrasi; menerapkan langkah- langkah pengendalian vektor yang diadaptasi secara lokal termasuk pengelolaan air perkotaan dan rumah tangga yang efektif.

    Pencegahan dan pengendalian Dengue memerlukan pendekatan lintas program maupun lintas sektoral yang efektif antara Kementerian Kesehatan dan kementerian terkait lainnya serta lembaga pemerintah, sektor swasta (termasuk penyedia layanan kesehatan swasta), organisasi non-pemerintah, dan masyarakat lokal. Jejaring pengendalian Dengue dapat membantu meningkatkan dan mensinergikan kekuatan mitra sehingga meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencegahan dan pengendalian Dengue.

    Pemilihan intervensi dalam penanggulangan Dengue menjadi hal yang amat penting. Agar dapat melaksanakan indikator kinerja program diperlukan adanya strategi nasional, dengan detail pelaksanannya dijabarkan per tahun selama 5 tahun. Penyusunan Stranas Penanggulangan Dengue 2021-2026 telah dimulai pada bulan November 2020, dan diperlukan pembahasan secara detail dengan lintas program guna mengidentifikasi kekuatan dan kendala dalam penanggulangan Dengue di Indonesia.

  3. Tujuan
    1. Mengidentifikasi stakeholder kunci sesuai dengan keterlibatan, interest, dan kekuatan dalam program pengendalian Dengue.
    2. Mengidentifikasi persepsi stakeholder terhadap strategi dan program pengendalian Dengue yang telah ada di tingkat nasional maupun daerah.
    3. Mengidentifikasi tantangan dalam implementasi program pengendalian Dengue yang telah ada.
  4. Pelaksanaan
  5. Waktu : Selasa, 16 Maret 2021
    Pukul : di lokasi masing-masing secara virtual

  6. Peserta
  7. Lintas Program, tim konsultan UGM, WHO Indonesia

  8. Jadwal Kegiatan
  9. Waktu (WIB) Kegiatan Narasumber Moderator
    Selasa, 16 Maret 2021
    13.00-13.05 Pembukaan Koordinator Kelompok Substansi Arbovirosis, Dit. P2PTVZ MC
    13.05-14.05 Kontribusi, Tantangan Program Pelayanan Medik dan Keperawatan serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Adminkes Ahli Madya Koordinator Poksi Pelayanan Medik dan Keperawatan, Dit. Yankes Rujukan Sub Koordinator Kelompok Substansi Arbovirosis, Dit.P2PTVZ
    Kontribusi, Tantangan Program Pusat Kesehatan Masyarakat serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Adminkes Ahli Madya Koordinator Poksi Pusat Kesehatan Masyarakat, Dit. Yankes Primer
    Kontribusi, Tantangan Program MTBS serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Analis Kebijakan Ahli Madya Koordinator Poksi Kesehatan Anak Balita dan Pra Sekolah, Dit. Kesehatan Keluarga
    Kontribusi, Tantangan Program Pemberdayaan Masyarakat serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue PKM Ahli Madya Kelompok Koordinator Poksi Pemberdayaan Masyarakat, Dit. Promkes dan PM
    Kontribusi, Tantangan Program Penyehatan Udara, Tanah dan Kawasan serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Sanitarian Ahli Madya Koordinator Poksi Penyehatan Udara, Tanah dan Kawasan, Dit. Kesling
    Kontribusi, Tantangan Program Vektor dan BPP serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Entomolog Kesehatan Ahli Madya Koordinator Poksi Vektor dan BPP, Dit. P2PTVZ
    Kontribusi, Tantangan Program Surveilans serta Peluang Penguatan Program Pengendalian Dengue Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya Koordinator Poksi Surveilans, Dit. SKK
    14.05-14.35 Diskusi (tanya jawab) Tim konsultan
    14.35-16.05 Pembahasan draf: Stakeholder Analysis Tim konsultan
    14.35-16.05 Wrap Up Tim konsultan
    16.10 Penutup Koordinator Kelompok Substansi Arbovirosis, Dit.P2PTVZ MC
  10. Laporan Kegiatan
  11. Detail

Rapat Pembahasan Stranas

stranas Wednesday, 3 March 2021

KERANGKA ACUAN

PERTEMUAN PEMBAHASAN PENYUSUNAN STRANAS PENGENDALIAN DENGUE DI INDONESIA 2021-2025

  1. Latar Belakang
  2. Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes ini cepat menyebar, dengan peningkatan 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50 – 100 juta infeksi Dengue terjadi setiap tahun dan hamper setengah dari populasi dunia tinggal di negara endemi Dengue. Saat ini hampir 75% dari populasi global terpapar Dengue di wilayah Asia-Pasifik. Epidemi Dengue berdampak terhadap sistem layanan kesehatan dan kerugian ekonomi besar-besaran. Di beberapa negara, beban Dengue sebanding dengan Tuberkulosis dan penyakit menular lainnya. Kasus Demam Berdarah ditemukan pertama kali di Indonesia pada 1968 dan sejak tahun 2014 telah menyebar di 34 provinsi, berfluktuasi setiap tahunnnya dan cenderung semakin meningkat angka kesakitannya dan sebaran wilayah yang terjangkit semakin luas. Hal ini karena vektor penular Dengue tersebar luas baik di tempat pemukiman maupun di tempat umum. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyebarluasan antara lain adalah kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, urbanisasi, yang semakin meningkat terutama sejak 3 dekade yang terakhir, perilaku masyarakat, perubahan iklim global (climate change), pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan air bersih. Puncak kasus Dengue sesuai dengan musim hujan yang berlangsung dari Desember hingga Maret, namun di daerah perkotaan puncaknya pada bulan Juni/Juli yang merupakan awal dari musim kemarau. Pada tahun 2019 terdapat 138.127 kasus DBD (IR 51,48 per 100.000 penduduk) dengan kematian akibat DBD sejumlah 919 orang (CFR 0,67%). Angka kematian akibat demam berdarah menurun di bawah 1% sejak 2008, namun demikian secara absolut harus tetap menjadi perhatian. Meskipun upaya dalam penanggulangan Dengue telah dilaksanakan di Indonesia, masih terdapat tantangan yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. KLB DBD terjadi hamper setiap tahun di tempat yang berbeda dan kejadiannya sulit diprediksi. Berbagai terobosan telah dilakukan, anatara lain penemuan kasus secara aktif, massif dan intensif, diperkuat dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK); Jumantik anak sekolah maupun di masyarakat dan penguatan pencatatan dan pelaporan Arbovirosis. Di negara dengan sumber daya yang terbatas, seperti Indonesia, pemilihan intervensi dalam penanggulangan Dengue menjadi hal yang amat penting. Agar dapat melaksanakan indikator kinerja program diperlukan adanya strategi nasional, dengan detail pelaksanaannya dijabarkan pertahun selama 5 tahun sesuai jangka waktu renstra. Mempertimbangkan hal tersebut, dipandang perlu menyusun dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025, melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

    Tahapan penyusunan sebagai berikut

    Tahap persiapan dilaksanakan 2 kali:

    1. Rapat persiapan pertama diikuti oleh Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber untuk membahas tahapan penyusunan dokumen strategi nasional.
    2. Rapat persiapan kedua diikuti Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber guna mematangkan rapat persiapan pertama.
  3. Tujuan
  4. Melakukan pembahasan draf Strategi Nasional Penanggulangan Dnegue 2021-2025

  5. Pelaksanaan
  6. Waktu : Jumat, Senin, dan Jumat, 27 dan 30 November, 4 Desember 2020
    Tempat : di lokasi masing-masing secara virtual

  7. Peserta
    1. Lintas Program
    2. Lintas Sector
    3. Mitra
    4. Tim Konsuktan UGM
  8. Biaya
  9. Pendanaan penyusunan strategi nasional ini dibiayai oleh dana WHO.

  10. Jadwal Kegiatan
  11. Pertemuan Pembahasan Stranas

    Waktu (WIB) Kegiatan Narasumber
    Jumat, 27 November 2020
    13.00 – 14.00 Implementasi pengendalian pencemaran air dalam rangka menaikkan angka bebas jentik Direktur Pengendalian Pencemaran Air, Kementerian Lingkungan Hidup
    14.00 – 15.00 Manajemen integrasi vektor terpadu Ketua Perhimpunan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI)
    15.00 – 16.00 Percepatan pembangunan sanitasi dalam rangka mendukung upaya menurunkan penyakit dengue Direktur Sanitasi, Kementerian PUPR
    16.00 – selesai Diskusi Konsultan
    Senin, 30 November 2020
    13.00 – 14.00 Penguatan manajemen klinis dengue Ikatan Dokter Anak Indonesia
    14.00 – 15.00 Peningkatan kapasitas SDM dalam pengendalian dengue Kepala Pusat Pelatihan SDMK, BPPSDMK
    15.00 – 16.00 Riset operasional terkait pengendalian dengue Pusat 3 Balitbangkes
    16.00 – selesai Diskusi Konsultan
    Jumat, 4 Desember 2020
    13.00 – 14.00 Skema pembiayaan dengue dalam program JKN Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan, BPJS
    14.00 – 15.00 Dukungan pembiayaan Kesehatan dalam pengendalian dengue di Indonesia Kepala P2JK, Kemenkes
    15.00 – 16.00 Perencanaan dan penganggaran dalam pengendalian penyakit dengue Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran Kemenkes
    16.00 – selesai Diskusi Konsultan

Rapat Pertemuan Konsensus Stranas

stranas Wednesday, 3 March 2021

KERANGKA ACUAN

RAPAT PERTEMUAN KONSENSUS STRANAS PENGENDALIAN DENGUE DI INDONESIA 2021-2025

  1. Latar Belakang
  2. Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes ini cepat menyebar, dengan peningkatan 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50 – 100 juta infeksi Dengue terjadi setiap tahun dan hamper setengah dari populasi dunia tinggal di negara endemi Dengue. Saat ini hampir 75% dari populasi global terpapar Dengue di wilayah Asia-Pasifik. Epidemi Dengue berdampak terhadap sistem layanan kesehatan dan kerugian ekonomi besar-besaran. Di beberapa negara, beban Dengue sebanding dengan Tuberkulosis dan penyakit menular lainnya. Kasus Demam Berdarah ditemukan pertama kali di Indonesia pada 1968 dan sejak tahun 2014 telah menyebar di 34 provinsi, berfluktuasi setiap tahunnnya dan cenderung semakin meningkat angka kesakitannya dan sebaran wilayah yang terjangkit semakin luas. Hal ini karena vektor penular Dengue tersebar luas baik di tempat pemukiman maupun di tempat umum. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyebarluasan antara lain adalah kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, urbanisasi, yang semakin meningkat terutama sejak 3 dekade yang terakhir, perilaku masyarakat, perubahan iklim global (climate change), pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan air bersih. Puncak kasus Dengue sesuai dengan musim hujan yang berlangsung dari Desember hingga Maret, namun di daerah perkotaan puncaknya pada bulan Juni/Juli yang merupakan awal dari musim kemarau. Pada tahun 2019 terdapat 138.127 kasus DBD (IR 51,48 per 100.000 penduduk) dengan kematian akibat DBD sejumlah 919 orang (CFR 0,67%). Angka kematian akibat demam berdarah menurun di bawah 1% sejak 2008, namun demikian secara absolut harus tetap menjadi perhatian. Meskipun upaya dalam penanggulangan Dengue telah dilaksanakan di Indonesia, masih terdapat tantangan yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. KLB DBD terjadi hamper setiap tahun di tempat yang berbeda dan kejadiannya sulit diprediksi. Berbagai terobosan telah dilakukan, anatara lain penemuan kasus secara aktif, massif dan intensif, diperkuat dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK); Jumantik anak sekolah maupun di masyarakat dan penguatan pencatatan dan pelaporan Arbovirosis. Di negara dengan sumber daya yang terbatas, seperti Indonesia, pemilihan intervensi dalam penanggulangan Dengue menjadi hal yang amat penting. Agar dapat melaksanakan indikator kinerja program diperlukan adanya strategi nasional, dengan detail pelaksanaannya dijabarkan pertahun selama 5 tahun sesuai jangka waktu renstra. Mempertimbangkan hal tersebut, dipandang perlu menyusun dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025, melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

    Tahapan penyusunan sebagai berikut

    Tahap persiapan dilaksanakan 2 kali:

    1. Rapat persiapan pertama diikuti oleh Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber untuk membahas tahapan penyusunan dokumen strategi nasional.
    2. Rapat persiapan kedua diikuti Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber guna mematangkan rapat persiapan pertama.
  3. Tujuan
    • Menginisiasi Penyusunan Strategi Nasional dengan melibatkan semua pemangku kepentingan sebagai bentuk komitmen dalam penanggulangan Pengendalian Dengue di Indonesia.
    • Melakukan diseminasi analisis situasi Dengue secara holistik yang akan digunakan sebagai evidence base dalam penyusunan stranas Pengendalian Dengue 2021-2025.
    • Mencapai konsensus nasional mengenai prioritas program, analisis penyebab utama dan optimalisasi intervensi sebagai dasar untuk mengembangkan Stranas Pengendalian 2021-2025.
    • Menyepakati secara Bersama rencana aksi dan kerangka waktu setelah proses pengembangan Stranas Pengendalian Dengue 2021-2025.
  4. Pelaksanaan
  5. Waktu : Rabu-Kamis, 25-26 November 2020
    Tempat : di lokasi masing-masing secara virtual

  6. Peserta
    1. Lintas Program
    2. Lintas Sector
    3. Mitra
  7. Biaya
  8. Pendanaan penyusunan strategi nasional ini dibiayai oleh dana WHO.

  9. Jadwal Kegiatan
  10. Pertemuan Konsensus Nasional

    Waktu Kegiatan Narasumber
    Rabu, 25 November 2020
    08.30 – 09.30 Pembukaan dan arahan Program Pengendalian Dengue di Indonesia Direktur P2PTVZ
    09.30 – 10.00 Global Strategy Dengue Control 2021-2025 Materi WHO Indonesia
    10.00 – 11.00 Lesson learn countries national strategy dengue multisectoral Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE)
    11.00 – 12.00 Perencanaan pembangunan nasional di bidang kesehatan dan gizi masyarakat dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat dengue Kasubdit Kesehatan Masyarakat, Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas
    12.00 – 13.00 Peran multi sektor dalam penanggulangan dengue Asisten Deputi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenko PMK
    13.00 – selesai Diskusi Konsultan
    Kamis, 26 November 2020
    08.30 – 09.30 Perspektif sosio antropologi sebagai dasar upaya pengendalian dengue Pusat 3 Balitbangkes
    09.30 – 10.30 Kebijakan pemberdayaan masyarakat desa dalam mendukung Gerakan 1 rumah 1 jumantik Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes
    10.30 – 11.30 Lesson learn penanggulangan dengue provinsi Jawa Timur Dinkes Prov Jawa Timur
    11.30 – 12.30 Sinkronisasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam upaya pengendalian dengue di Indonesia Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III, Kemendagri
    12.30 – selesai Diskusi Konsultan

Rapat Persiapan Penyusunan Stranas

stranas Wednesday, 3 March 2021

KERANGKA ACUAN

RAPAT PERSIAPAN PENYUSUNAN STRANAS PENGENDALIAN DENGUE DI INDONESIA 2021-2025

  1. Latar Belakang
  2. Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah tropis dan sub tropis. Penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes ini cepat menyebar, dengan peningkatan 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50 – 100 juta infeksi Dengue terjadi setiap tahun dan hamper setengah dari populasi dunia tinggal di negara endemi Dengue. Saat ini hampir 75% dari populasi global terpapar Dengue di wilayah Asia-Pasifik. Epidemi Dengue berdampak terhadap sistem layanan kesehatan dan kerugian ekonomi besar-besaran. Di beberapa negara, beban Dengue sebanding dengan Tuberkulosis dan penyakit menular lainnya. Kasus Demam Berdarah ditemukan pertama kali di Indonesia pada 1968 dan sejak tahun 2014 telah menyebar di 34 provinsi, berfluktuasi setiap tahunnnya dan cenderung semakin meningkat angka kesakitannya dan sebaran wilayah yang terjangkit semakin luas. Hal ini karena vektor penular Dengue tersebar luas baik di tempat pemukiman maupun di tempat umum. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi penyebarluasan antara lain adalah kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, urbanisasi, yang semakin meningkat terutama sejak 3 dekade yang terakhir, perilaku masyarakat, perubahan iklim global (climate change), pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan air bersih. Puncak kasus Dengue sesuai dengan musim hujan yang berlangsung dari Desember hingga Maret, namun di daerah perkotaan puncaknya pada bulan Juni/Juli yang merupakan awal dari musim kemarau. Pada tahun 2019 terdapat 138.127 kasus DBD (IR 51,48 per 100.000 penduduk) dengan kematian akibat DBD sejumlah 919 orang (CFR 0,67%). Angka kematian akibat demam berdarah menurun di bawah 1% sejak 2008, namun demikian secara absolut harus tetap menjadi perhatian. Meskipun upaya dalam penanggulangan Dengue telah dilaksanakan di Indonesia, masih terdapat tantangan yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. KLB DBD terjadi hamper setiap tahun di tempat yang berbeda dan kejadiannya sulit diprediksi. Berbagai terobosan telah dilakukan, anatara lain penemuan kasus secara aktif, massif dan intensif, diperkuat dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK); Jumantik anak sekolah maupun di masyarakat dan penguatan pencatatan dan pelaporan Arbovirosis. Di negara dengan sumber daya yang terbatas, seperti Indonesia, pemilihan intervensi dalam penanggulangan Dengue menjadi hal yang amat penting. Agar dapat melaksanakan indikator kinerja program diperlukan adanya strategi nasional, dengan detail pelaksanaannya dijabarkan pertahun selama 5 tahun sesuai jangka waktu renstra. Mempertimbangkan hal tersebut, dipandang perlu menyusun dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025, melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

    Tahapan penyusunan sebagai berikut

    Tahap persiapan dilaksanakan 2 kali:

    1. Rapat persiapan pertama diikuti oleh Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber untuk membahas tahapan penyusunan dokumen strategi nasional.
    2. Rapat persiapan kedua diikuti Subdit Arbovirosis, lintas program, Komli, konsultan, narasumber guna mematangkan rapat persiapan pertama.
  3. Tujuan
  4. Mempersiapkan serangkaian kegiatan penyusunan dokumen stranas Penanggulangan Dengue 2021-2025

  5. Pelaksanaan
  6. Waktu : Kamis-Jumat, 19-20 November 2020
    Tempat : di lokasi masing-masing secara virtual

  7. Peserta
    1. Lintas Program
    2. Lintas Sector
    3. Komisi Ahli
  8. Biaya
  9. Pendanaan penyusunan strategi nasional ini dibiayai oleh dana WHO.

  10. Jadwal Kegiatan
  11. Rapat Persiapan Stranas

    Waktu Kegiatan Narasumber
    Kamis, 19 November 2020
    09.00 – 09.15 Pembukaan dan arahan Direktur P2PTVZ
    09.15 – 10.15 Progress program pengendalian dengue di Indonesia Direktur P2PTVZ
    10.15 – 11.15 Modeling statistic dalam penentuan target program pengendalian dengue di Indonesia dr. Iwan Ariawan, MSPH (FKM UI)
    11.15 – 12.15 Lesson learn penyusunan stranas TB Prof. dr. Ari Probandari, MPH, PhD (FK UNS)
    12. 15 – selesai Diskusi Konsultan
    Jumat, 20 November 2020
    13.00 – 14.00 Kerangka konsep perencanaan dalam stranas dr. Elvieda Sariwati, M.Epid
    14.00 – 15.00 Lesson learn global pengendalian penyakit menular tular vektor Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE
    15.00 – 16.00 Perjalanan penyusunan stranas TB 2020-2024 dr. Imran Pambudi, MPHM
    16.00 – selesai Diskusi Konsultan

Rapat Persiapan

stranas Wednesday, 3 March 2021

Subdit Arbovirosis Kemenkes RI telah menyelenggarakan rapat persiapan dengan mengundang stakeholder maupun pihak-pihak yang relevan dengan pengendalian dengue

Agenda

  • 19-20 November 2020

    Rapat Persiapan Penyusunan Stranas

    Detail
  • 25-26 November 2020

    Rapat Pertemuan Konsensus Stranas

    Detail
  • 27 November, 30 November, 4 Desember 2020

    Rapat Pembahasan Stranas

    Detail

Focus group discussion (FGD)

stranas Wednesday, 3 March 2021

FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)

PENYUSUNAN STRANAS PENGENDALIAN DENGUE 2021-2025

  1. Latar Belakang
  2. Dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat di daerah tropis maupun subtropis. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 50-100 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun dan hampir setengah dari populasi dunia tinggal di negara endemik dengue. Kasus demam berdarah pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1968 dan menyebar di 34 provinsi sejak tahun 2014. Setiap tahunnya kasus infeksi dengue mengalami fluktuasi dan tersebar luas di pemukiman maupun di tempat umum. Kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, perilaku masyarakat, perubahan iklim, dan pertumbuhan ekonomi merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi penyebarluasan infeksi dengue.

    Upaya pengendalian dengue sudah dilaksanakan di Indonesia melalui program 3M plus, Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), jumantik anak sekolah maupun di masyarakat, dan penerbitan panduan nasional untuk tata laksana klinis. Akan tetapi, kejadian luar biasa (KLB) dengue masih terjadi hampir setiap tahun di tempat yang berbeda dan kejadiannya sulit diprediksi.

    Dalam rangka meningkatkan strategi dan program pengendalian dengue di Indonesia, diperlukan dokumen strategi nasional yang dapat menguatkan kolaborasi antar sektor untuk kegiatan pengendalian dengue di semua tingkat/level. Strategi Nasional (Stranas) Program Pengendalian Dengue akan menjadi panduan negara untuk memformulasi dan mengimplementasikan strategi dan program yang efektif di tingkat nasional maupun daerah dalam rangka pengendalian dengue dan menurunkan beban epidemiologi, ekonomi, maupun sosial dari penyakit.

  3. Tujuan
  4. Memperdalam diskusi terkait tantangan utama dalam implementasi program pengendalian dengue seperti kebijakan pemerintah, sistem surveilans dan respon, sistem informasi, stakeholder engagement, dan isu lain yang menjadi tantangan.

  5. Pelaksanaan
  6. Hari, tanggal : Senin, 22 Februari 2021
    Pukul : 10.00 – 13.00 WIB
    Tempat : virtual melalui zoom meeting

  7. Peserta
  8. FGD diikuti oleh Substansi Arbovirosis Kementerian Kesehatan RI dan struktural yang relevan terkait program pengendalian dengue di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten.

    1. Pusat: Substansi Arbovirosis, Direktorat Promosi Kesehatan, Subdit Yanmed, Subdit Farmakes (pengadaan kit NS-1, cairan), Bidang Surveilans, Subdit Vektor, Subdit Pusdatin;
    2. Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten, Puskesmas;
    3. Organisasi profesi: PAPDI, IDAI, IAKMI, PERSI.
  9. Biaya
  10. Pendanaan penyusunan strategi nasional ini dibiayai oleh dana WHO.

  11. Jadwal Kegiatan
  12. Pada sesi FGD, peserta dibagi dalam 3 break room sesuai dengan topik yang relevan.

    Break Room Fasilitator Topik Jumlah Peserta
    Room 1 1. Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K)
    2. dr. Citra Indriani, MPH
    Case management (definisi kasus confirm/probable, penanganan, pelaporan) dan surveilans (outbreak) 10
    Room 2 Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD Manajemen vektor dan partisipasi masyarakat 10
    Room 3 Deni Harbianto, S.E, M.Ek. Manajemen program (finance, pengadaan, SDM, data) 10
    Jadwal Kegiatan
    Waktu (180 menit) Kegiatan PIC
    10.00 – 10.05 (5 menit) Pembukaan MC
    10.05 – 10.10 (5 menit) Arahan terkait FGD Tim konsultan UGM
    10.10 – 10.15 (5 menit) Pembagian break room Subdit Arbovirosis
    10.15 – 12.15 (120 menit) FGD Fasilitator
    12.15 – 12.20 (5 menit) Kembali ke room utama Subdit Arbovirosis
    12.20 – 12.35 (15 menit) Pemaparan hasil FGD masing-masing room (@5 menit) Fasilitator
    12.35 – 12.45 (10 menit) Wrap Up Tim konsultan UGM
    12.45 – 13.00 (15 menit) Penutup MC
    Laporan Kegiatan

    Detail

Tahap Finalisasi

stranas Tuesday, 2 March 2021

Pada tahap ini tim konsultan UGM akan memformulasikan semua input yang telah didapat dari workshop dan menyiapkan draf akhir stranas. Rapat finalisasi akan dilaksanakan dengan Subdit Arbovirosis Kemenkes RI dan WHO untuk mereview dan merevisi dokumen.

  1. Pertemuan Finalisasi

  2. Pertemuan Diseminasi

Tahapan Implementasi

stranas Tuesday, 2 March 2021

Pada tahap ini UGM akan membantu fasilitasi beberapa workshop dan rapat seperti yang telah direncanakan pada Gambar 1. Tahap ini bertujuan untuk menyusun bab/chapters yang relevan dalam dokumen stranas. Ada 8 workshop yang direncanakan oleh tim konsultan UGM:

  1. Workshop 1. Stakeholder analysis

    Tujuan: (1) mengidentifikasi stakeholder kunci dalam pengendalian dengue; (2) mengkaji perspektif stakeholder terkait strategi dan program pengendalian dengue yang saat ini sudah dilaksanakan di level nasional maupun daerah; (3) mengidentifikasi tantangan dalam mengimplementasikan program pengendalian dengue saat ini. Target peserta: stakeholder (direktorat atau divisi yang relevan di Kemenkes), komli, ekspert, NGO, dan institusi lain yang relevan.

  2. Workshop 2. Situation analysis

    Tujuan: (1) menggali analisis situasi terkait beban, diagnosis dan manajemen kasus, pengendalian vektor, surveilans dan respon, sumber daya manusia, pembiayaan, sistem informasi, riset dan inovasi dengue; (2) mengidentifikasi kesenjangan antara hal-hal yang diharapkan dengan hal-hal yang telah diimplementasikan dalam program pencegahan dan pengendalian dengue. Target peserta: manajer/pelaksana program pengendalian dengue di level nasional, provinsi, maupun daerah (dengan beban kasus dengue yang tinggi); kelompok kerja operasional/pokjanal; ekspert; dan institusi yang relevan.

  3. Workshop 3. Strategic issue, objectives, and targets

    Tujuan: (1) menggali isu strategis maupun tantangan yang berkaitan dengan program pencegahan dan pengendalian dengue; (2) mengindentifikasi analisis strength, weakness, opportunity, and threat (SWOT); (3) memformulasikan tujuan dan target stranas dan indikator target tahunan. Target peserta: stakeholder (direktorat atau divisi yang relevan di Kemenkes), komli, provinsi/daerah dengan beban dengue yang tinggi, NGO, dan institusi lain yang relevan.

  4. Workshop 4. Strategies

    Tujuan: mengidentifikasi strategi utama pengendalian dengue untuk mencapai tujuan yang ditargetkan. Target peserta: stakeholder (direktorat atau divisi yang relevan di Kemenkes), komli, provinsi/daerah dengan beban dengue yang tinggi, NGO, dan institusi lain yang relevan.

  5. Workshop 5. Programmes

    Tujuan: mengidentifikasi program kunci/utama untuk masing-masing strategi. Target peserta: manajer/pelaksana program pengendalian dengue di level nasional, provinsi, maupun daerah (dengan beban kasus dengue yang tinggi); kelompok kerja operasional/pokjanal; ekspert; stakeholders; dan institusi yang relevan.

  6. Workshop 6. Implementation strategy and monitoring and evaluation (M&E)

    Tujuan: (1) mendiskusikan dan menentukan bagaimana program akan diimplementasikan, termasuk tanggal atau periode waktu, lokasi, populasi target, dan siapa yang akan mengimplementasikan; (2) menjabarkan indikator untuk mengkaji pencapaian tujuan dan target dalam stranas. Target peserta: manajer/pelaksana program pengendalian dengue di level nasional, provinsi, maupun daerah (dengan beban kasus dengue yang tinggi); kelompok kerja operasional/pokjanal; ekspert; stakeholders; dan institusi yang relevan.

  7. Workshop 7. Programme cost and budgeting

    Tujuan: (1) mereview kegiatan-kegiatan dari program yang akan dibiayai; (2) mengestimasikan biaya masing-masing kegiatan dan budget per kegiatan, tujuan, program, dan strategi. Target peserta: manajer/pelaksana program pengendalian dengue di level nasional, provinsi, maupun daerah (dengan beban kasus dengue yang tinggi); kelompok kerja operasional/pokjanal; ekspert; stakeholders; dan institusi yang relevan.

  8. Workshop 8. Financing

    Tujuan: (1) Menentukan kesenjangan pembiayaan antara kebutuhan dan budget yang dialokasikan; (2) mendiskusikan dan mengidentifikasi anggaran yang ada dan sumber anggaran yang potensial. Target peserta: manajer/pelaksana program pengendalian dengue di level nasional, provinsi, maupun daerah (dengan beban kasus dengue yang tinggi); kelompok kerja operasional/pokjanal; ekspert; stakeholders; dan institusi yang relevan.

Tahapan Persiapan

stranas Tuesday, 2 March 2021

Pada tahap ini UGM melakukan beberapa kegiatan seperti:

  1. Literature review untuk mendapatkan dokumen-dokumen penting dan mengetahui strategi terkait program pengendalian dengue secara global.
  2. Desk review untuk meringkas sejarah, aturan dan kebijakan yang relevan, dokumen yang berkaitan program, maupun hasil riset yang sudah dilakukan terkait dengue di Indonesia.
  3. Rapat Persiapan
  4. Focus group discussion

Development of National Strategic Plan for Dengue Control Programme 2021-2025

stranas Wednesday, 18 November 2020

The national strategy for dengue control programme will guide the country to formulate and implement effective strategies and actions at the national and local government level to control dengue and reduce the epidemiological, economic and social burden of the disease.

The development of the NSP-DCP will include, but not limited to, processes outlined in Figure 1. In summary, the process will consist of preparation, implementation and final phases. Involvement of key stakeholders of DCP from within the MOH, other key government sectors at national and sub-national level, implementing partners, NGOs and experts from various institutions will be crucial in the processes. read more

12
Universitas Gadjah Mada

PUSAT KEDOKTERAN TROPIS

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Sayap Utara Lantai 2,

Jl. Medika, Senolowo, Sinduadi, Mlati, Sleman Yogyakarta 55284

Telp./Fax. : 0274-547147

+62 811-2847-147

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY